Setelah menempuh perjalanan menyenangkan dari Purworejo menuju Jogjakarta untuk menemui dedengkot Teater Whani Darmawan di Sanggarnya, akhirnya perjalananku berhenti sementara di Madiun untuk beristirahat. Selama satu hari dua malam, aku beristirahat di Hotel Sarangan Permai yang sangat murah meriah namun mempunyai pelayanan yang sangat baik, dengan kualitas kamar yang sekelas Hotel bintang 3 Jakarta. Sungguh menyenangkan dan menyegarkan, berhenti sebentar untuk bersantai bercengkerama dengan diri sendiri. Menikmati kesendirian.
Beberapa saat, kenikmatan sendiri sungguh tak mampu untuk dilukiskan. Dunia benar-benar serasa puisi yang damai, sunyi namun tidak sepi. Sesekali keluar hotel hanya untuk melihat jalan raya di depan hotel yang cenderung sepi. Bukan tidak mungkin aku akan kembali lagi suatu saat, dimana bisa merasakan langsung Pecel asli Madiun dengan harga hanya Rp. 3000,- sudah plus satu gelas teh hangat. Woooww begitu nikmat sekali hidup diluar daerah Metropolis. Seandainya hidupku bisa diputar ulang, rasanya aku tak ingin hidup di Jakarta.
Namun akhirnya tiba juga waktu untuk meneruskan perjalanan ke Surabaya. Setelah check out dari hotel pukul 11.30 WIB, aku berjalan menelusuri jalan di depan hotel menuju Stasiun Kereta Api Madiun. Dengan membayar Rp. 18.500,-, aku menikmati perjalanan dari stasiun Madiun menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Perjalanan dengan diiringi suara nyaring pengamen yang silih berganti menunjukkan kepiawaiannya bernyanyi dan bermain gitar. Juga suasana riuh suara pedagang asongan menjajakan jualannya. Sungguh sebuah nyanyian yang dulu pernah aku sempat rasakan saat masih mengamen di Kereta Ekonomi Bogor-Jakarta. Nostalgia, benar-benar nostalgia.
Tak terasa anganku membawaku ke dalam nuansa perjalanan hidup yang dulu berat rasanya aku jalani. Betapa indahnya kebahagiaan saat ini. Dulu, jangankan bisa bermain dan berjalan-jalan jauh dari tuntutan denyut perut yang selalu menuntut. Untuk bisa merasakan tidur di sebuah hotel saja itu adalah sebuah keajaiban. Ya Tuhan, betapa nikmat kebahagiaan Engkau berikan kepadaku. Maafkan hamba yang sangat mencintaimu namun berusaha menolakMu selalu.Anganku terus melayang terbang menelusuri jelujur masa lalu yang mungkin sekarang sudah membujur menjadi sebuah “kenangan”.
Dan pukul 16.45 WIB, sampailah aku di Stasiun Gubeng Surabaya. Tak aku lewatkan untuk merasakan dulu soto ayam khas jawa timur begitu keluar dari stasiun. Wuihh betapa segar dan menyegarkan. Asyiknya merasakan duduk di pinggir jalan sembari merasakan masakan khas. Tak berapa lama aku menelpon Om Gajah Pesing yang melegenda di dunia Gajahnya yang pesing. Tak disangka tak dinyana, ternyata TPC sedang selamatan ulang tahun pertamanya di tanggal 10 November ini. Betapa senangnya diriku, makin banyak berkenalan dengan banyak kawan yang menyenangkan. Tak lupa juga ketemu sama Om Gempur yang suka menggempur dengan halus tanpa bertempur. Dan tentu, tidak aku lewatkan untuk ikut makan nasi kuning selamatan TPC. Hidup yang indah bukan??? Selamat ulang Tahun untuk yang pertama TuguPahlawan.com semoga bertambah besar, sukses dan bermanfaat.
Terakhir malam harinya, aku bersama dengan Invy, Sitidy dan Inet serta pula Gajah menikmati hotspot di kafe Garlick Store. Tapi sedikitpun tidak bau bawang disini, yang ada perempuan bau bawang hehehe… Sembari menghabiskan malam. Selamat malam.
salut
maju dan kompak selalu TPC Suroboyo…
hemmm….bau bawang sapa ya mas
hehe….jangan2 yang dusamping kita…hahahhaa…
hemm barusan disalamin sama yang punya kafe cirkel…kira2 kopinya digratisin gak ya…hehehe
ini yang bisa dibilang, “sedang menikmati hidup”. Kalau istilah saya : Healing Getaway. Kapan lagi ya ….
EM
Perjaanan yang sangat indah ,walau menghirup bau aroma bawang hehe
keren deh kalo TPC
semoga maju terus blogger surabaya…
enaknya bisa jalan2 sendiri menikmati kesendirian…dannn nasi pecel 3000 sudah sama teh anget??? langka banget tuh! di duri aja gak ada
perjalanan yang menyenangkan juga refleksi yang menyentuh. Betapa indah menjadi bagian dari kehidupan. Selamat malam..
Tulisane uapik mas…..maap pas di Taman bungkul sempet bingung karo sampeyan, maklum belum kenal.
Sebuah reportase perjalanan yang luar biasa, Mas Kika… Pengen juga seperti ini.. Semoga bisa bersama-sama menebar rahmat…
maju terus dan sukses selalu