Less Think Do [a lot] More

Beberapa hal yang jarang dipikirkan dari sekian banyak pikiran kita “mungkin” adalah sedikit berpikir. Sangat sepakat untuk menyepakati “Less Talk Do More”, makanya terpikir olehku untuk menuliskan salah satu prinsip yang sedari kecil ditanamkan oleh orang tuaku yaitu “Less Think Do a lot More”. Sempat aku protes dahulu, “Ayah, itu bukannya prinsip orang yang kerja kasar? Bukan kantoran?”, dengan bijak ayahku menjawab, “Cobalah berpikir terbalik untuk sesekali atau untuk beberapa kali dalam memikirkan arti sebuah kalimat”.

Sekian waktu lamanya aku coba untuk memikirkan kalimat itu, sembari menuangkan langkah dalam perjalanan yang masih akan terus berjalan ini. Banyak sekali pengetahuan yang aku dapat dari perjalanan mencari arti kalimat Ayahku itu. Sedikit demi sedikit akhirnya aku bisa menguak arti dari kalimat mujarab yang susah untuk diaplikasikan itu. “Less Think do [a lot] More”, itu yang aku dapat. Ternyata sebuah kalimat dengan arti yang sangat simple, yaitu menjadi BOSS. Bukankah Boss justru berpikir banyak dan sedikit mengeluarkan tenaga? Dan letak jawaban kalimat itu justru terbalik dari yang sebenarnya.

Untuk menjadi seseorang dengan tingkat pengalaman serta jam terbang tertentu, tentunya setiap orang membutuhkan segala langkah dan menjalaninya dari hal yang paling awal. Tidak ada satu pun orang yang akan berhasil tanpa melakukannya dengan mengerti sejak awal langkah hidupnya. Seperti sebuah jabatan di sebuah tempat struktural, tentu kita semua akan menjalaninya dari tingkat paling rendah. Kemudian seiring perjalanan waktu [bila belajar dengan baik] maka banyak kemungkinan akan naik menuju tingkat selanjutnya terus menerus. Dari awal yang harus banyak bekerja dengan [kadang] dipaksa untuk tidak ikut berpikir atas pekerjaannya, karena semua pekerjaan sudah disiapkan oleh atasan atau Boss. Perlahan setiap pekerjaan yang kita kerjakan akan menumbuhkan sebuah hasil [tentu baik kalau kita kerjakan semua tugas dengan baik] baik secara tingkat jabatan maupun pemikiran. Bila dalam dunia usaha, maka bukan karir yang kebanyakan akan di dapat, namun pengalaman dan pengetahuan lebih. Begitu terus menerus hingga sampai akhirnya kita pun akan sampai pada puncaknya. Yang tentunya disitulah letak perputaran waktu pembelajaran  kepribadian dan ketekunan yang biasa kita sebut sebagai Jam Terbang.

Lalu apa hubungannya dengan “Less think do [a lot] more?”.

Bila kita sudah sampai pada titik puncak, maka kita tidak akan banyak berpikir dalam menjalankan sesuatu pekerjaan. Karena smua pekerjaan sudah diurusi oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita. Hingga kita pun cukup dengan menjentikkan jari, tanda tangan dan surat untuk menyuruh orang berpikir banyak akan pekerjaan kita.

Salam Air.

11 Responses to “Less Think Do [a lot] More”

  1. ikkyu_san says:

    hmmm
    kalo aku sbg awam sih memaknai slogan itu dengan… jangan kebanyakan mikir sehingga menghambat gerak. Terutama orang perfeksionis biasanya bikin plan yang rumit-rumit dulu baru bergerak, padahal bisa saja kita mikirnya sambil dikerjakan.

    EM

  2. sandra palupi says:

    ayahmu hebat ya!

  3. sendy says:

    perlu belajar ndak mas kalo mau jadi bos ? hehe…

  4. beti nurbaeti says:

    menjentikkan jari? hmmm…perlu usaha tak kenal menyerah untuk bisa ke tahap itu…btw…,salam angin…naruto

  5. JR says:

    wakh keren buanget nih tulisannya mas kika….ya begitu lah manusia

  6. sibaho way says:

    menjadi boss memang mengurangi memikirkan hal2 kecil, tapi lebih banyak memikirkan hal besar ke depan :)

  7. lina says:

    kunjungan balik. salam kenal. :)
    saya suka tulisannya.
    errr, asalkan kita bisa memilih anak buah yang cerdas dan produktif sih nggak papa ya.

Leave a Reply