Joko berlari cepat meninggalkan kamar orang tuanya. Digenggamnya erat gulungan kertas kumal itu, dia berlari menuju pusat kota dimana ada bangunan tua peninggalan belanda bertuliskan Perpustakaan. Sepertinya dia tahu benar apa yang dicarinya, matanya memandang lurus menyilang ruangan perpustakaan. “Iya disana, aku pernah membacanya disana…”, bisik Joko. Bergegaslah dia menuju arah pandang matanya, “disini iya disini… Seharusnya disini, aku yakin ada disini..dulu disini”, matanya tiada henti melihat beberapa sab buku yang pernah tak sengaja kena senggol olehnya.
“Ayah, buku apa itu?”, tanya Joko. “Kamu harus simpan buku ini baik-baik, jangan sampai siapapun tahu…”, bisik ayah Joko. Seminggu kemudian Ayahnya mati tertembus peluru. Joko masih tak tahu apa yang terjadi, sampai saat usianya beranjak dewasa dan ditangannya tergenggam buku pemberian ayahnya. Tertulis disitu pengarangnya “Pramoedya……..”.
Darahnya bergejolak, jaman kebebasan berpendapat ternyata belum benar dilalui oleh ayahnya hingga sekarang. Dibukanya kembali kamar ayah ibunya yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi, dari bawah ranjang hingga atas lemari dicarinya sesuatu yang Joko sendiri tak tahu apa itu. Tanpa lelah terus dicarinya, bongkar sana bongkar sini. Sampai akhirnya duduk bersandar lemari di dekat ranjang, sesaat Joko menarik nafas panjang dan tidak dirasakannya kelelahan. “Pluk….” tiba-tiba didepannya jatuh segulungan kertas, secepatnya Joko membukanya. “Kudeta Soeharto pada….” Judul gulungan kertas yang langsung dilihatnya. (more…)

In Memoriam
Tadi pagi sekitar pukul 03.00 WIB, aku dan sahabatku makan bersama di sebuah warteg yang biasa menjadi langgananku untuk makan siang karena kebetulan dekat dengan kantor. Kami mendiskusikan untuk pembuatan lagu atau tepatnya Himne MLM dari PT. Ilham Malindo, yang dimana pembuatan software hingga websitenya memang kantorku yang mengerjakannya. Kebetulan Direktur dari Ilham Malindo memintaku untuk sekaligus membuatkan musik khusus untuk produk MLMnya, karena memang di kantorku juga ada bidang yang menangani musik sampai dengan pembuatan klipnya. Namun untuk mendapatkan lagu yang sesuai dan pas dengan tema serta suasana, tentu akan membutuhkan kemampuan khusus yang lebih spesifik. Sedangkan kami berdua belum terbiasa menciptakan lagu dengan tema yang dibatasi, karena memang terbiasa dengan bentuk karya bebas.

Sadness
Malam tahun baru, setelah selesai mengisi acara di sebuah panggung kemudian saya luangkan waktu dengan membaca buku yang sudah lama teronggok meluber dikamar. Tak luput juga saya mencari-cari artikel yang sekiranya menarik untuk menyegarkan otak dari gumpalan-gumpalan beku di kerangka kepala.
Saya temukan sebuah artikel yang dalam kacamata saya sangatlah “sensitif” di sebuah blog, sangat menarik menurut saya. Hingga tak luput sang empunya Blog pun memberikan prolog bahwa artikel ini memang sensitif. Benar, ini sangatlah sensitif. Bila dibaca oleh orang yang kacamata bacanya hanya masih terkotak dalam batasan “harfiah”. Apalagi ditambah dengan kecenderungan “malas” membaca untuk mendapatkan arti yang sesungguhnya. Seperti pernah saya temui seorang teman menuliskan sebuah hadis “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan hadapilah cobaan dengan do’a.” (HR. ath-Thabrani), dan saya coba untuk memancing apa kiranya yang dia lakukan untuk lebih dalam menggali arti sesungguhnya hadits tersebut, namun hanya pengembalian pendapat yang saya dapatkan bahwa itu adalah “hadits” bukan orang biasa yang mengucapkannya.
Akhirnya aku bisa dapatkan juga bukunya meskipun versi E-Book. Namun lumayan untuk menjawab penasaran dalam pikiran dan hati. Jujur saja belum membacanya utuh, namun sudah muncul keinginan untuk berbagi dengan teman-teman lainnya, karena aku dapatkan buku ini jjuga dari teman-teman. Terima kasih Friends. Bisa di download disini.
Dan tak lupa ada satu e-book yang juga berasal dari buku yang ditarik peredarannya oleh rezim sekarang yaitu Dalih Pembunuhan Massal. Sebagai bangsa yang perlu untuk mengetahui sejarah dengan baik, bukan sebagai bentuk perlawanan namun sebagai bentuk pelurusan agar tidak semakin hilang jejak sejarah yang seharusnya diketahui oleh banyak orang. Silahkan download disini.
“Semua jadi Rp. 17.500,- Pak…” Kata kasir Indo***t. Langsung aku keluarkan permen dan aku hitung hingga seharga 17.500 kemudian aku kasihkan ke kasir itu. “Loh kok bayar pakai permen Pak??” Tanya kasir itu. “Selama ini kan anda selalu memotong pengembalian dibawah 500 dengan permen, maka sekarang saya kembalikan untuk belanja disini.” Kataku. Maka berantemlah kami pagi-pagi…
—————————————————————————————————————————
Beberapa hari semenjak hari Jumat sore, aku sudah travelling mulai dari Depok – Purworejo – Jogjakarta – Madiun dan Surabaya. Sangat disayangkan, rencana awal yang akan langsung berlanjut ke Bali dan Bima harus tertunda. Karena ada telpon dari salah satu kolega yang ingin bertemu denganku. Dia bilang PT Djarum ingin ketemu dengan diriku. Atau lebih tepat sebenarnya karena temanku mengajukan namaku untuk ketemu perwakilan orang Djarum dalam urusan Branding Image Djarum. Setelah menimbang-nimbang bagaimana baiknya, akhirnya aku putuskan untuk pulang. Ya, aku harus pulang.