Suatu hari seorang teman bertanya pada saya, “Mas Kika, kenapa orang yang belanja banyak hingga mengeluarkan ratusan ribu setiap belanja tetapi bisa dengan mudah mengeluarkannya daripada ketika harus menyumbang beberapa puluh ribu?”.
Pertanyaan yang sulit, saya bukan orang pandai. Maka saya katakan, saya akan jawab pertanyaan itu dua atau tiga hari mendatang. Sejak itu, langsung saya bongkar semua arsip buku dan catatan-catatan koleksi yang ada di almari. Selama dua hari penuh mencoba mencari sebab-sebab manusia lebih suka dengan hal-hal yang boros atau semua yang berbentuk kenikmatan dunia. Dan hasilnya NOL, ternyata saya tidak punya catatan tentang itu. Dengan berat hati aku rapikan kembali buku-buku itu.
Continue reading →
Triune Brain Theory:
The Old Brain: Three Brains, One Decision Maker.
Konsep Triune Brain adalah konsep penyederhanaan tentang otak menjadi 3 bagian, yang ditemukan oleh Neuroscientist Paul D. MacLean, dan dipopulerkan oleh Carl Sagan. Model pemahaman otak yang berlandaskan pada teori evolusi sejak 450 juta tahun yang lalu. Evolusi otak manusia dimulai dengan adanya Otak Tua, atau Reptilian Brain dan berkembang menjadi Mamalian Brain dan terus sampai pada Neo Cortex.
Ketiga otak kita mempunyai fungsi yang berbeda: Paling luar, yang hanya dimiliki oleh manusia saja, adalah “Otak Baru” kita, The New Brain, Neo Cortex, berpikir dan menganalisa keadaan, menghitung untung rugi dan berinovasi. Otak inilah yang dipakai untuk memahami bahasa, berhitung, angka, huruf. Dan disinilah kita membagi otak kita menjadi otak kanan dan kiri. Otak tentang seni, dan angka.
Continue reading →
Richard Weisman melakukan percobaan pada 2 orang muda: yang satu mengaku selalu bagus keberuntungannya, yang satu selalu mengatakan dia sial. Kedua orang muda tersebut, pada hari yang berbeda, diminta ke sebuah warung kopi menunggu dia. Dari tempat jalannya memang “dipasangi” uang di jalan 50 dollar, dan di warung kopi itu ada seorang pengusaha sukses diminta duduk.
Pemuda yang selalu beruntung ternyata menemukan uang 50 dollar dilantai jalan menuju warung kopi dan ketika menunggu sempat kenal dengan pengusaha sukses yang duduk disana; sementara pemuda yang selalu sial ternyata jalan tidak menemukan uang tersebut dan tidak juga menggunakan kesempatan berkenalan dengan pengusaha sukses itu.
Continue reading →
Bermain selalu lebih menyenangkan daripada bekerja. Secara natural manusia melakukan kegiatan bermain sejak kecil, dengan antusias, semangat, dan penuh kegembiraan. Kita mulai terpasung ketika dewasa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang “berdosa”, “kekanak kanak an”, dan tidak “bertanggung jawab”. Stuart Brown, pendiri National Institude of Play, mencoba menggali kembali esensi dari bermain ini dalam riset panjang puluhan tahun.
Menurut Neuroscientist Jaak Panksepp, penelitian pada hewan, menunjukkan bahwa “bermain” telah ada sejak jaman dinosaurus, dan bermukim pada reptilian brain kita, dimana kegiatan survival, bernafas, kesadaran juga berada. Kera, anjing, kucing, dan binatang lainpun memiliki kecenderungan akan melakukan kegiatan bermain ini, setelah kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup terpenuhi.
Continue reading →